Archive | June 2011

IDENTIFIKASI BAKTERI PADA DAGING MENGGUNAKAN 16S rRNA

IDENTIFIKASI BAKTERI PADA DAGING MENGGUNAKAN 16S rRNA

Pendahuluan

Berbagai jenis produk tidak luput dari kontaminasi mikroorganisme yang pada akhirnya menyebabkan keracunan pangan. Beberapa bakteri yang kerap kali menjadi sumber kontaminan antara lain Salmonella spp., Campylobacter jejuni/coli, Yersinia enterocolitica, E. coli VTEC, Listeria monocytogenes dan juga Clostridium perfringens. Daging juga bisa menyebabkan intoksikasi yang disebabkan oleh Staphylococcus aureus dan Clostridium botulinum. Keberadaan bakteri ini di dalam daging segar bervariasi, dan biasanya tergantung pada berbagai faktor diantaranya jenis organisme, faktor geografis, kondisi peternakan dan /atau praktek produksi dan pengolahan daging. (Syamsir 2010).

Metode yang dilakukan untuk mengidentifikasi adanya mikroorganisme pada pangan atau yang berada pada organisme eukariot, yaitu dengan teknik RNA ribosomal paling banyak digunakan sebagai penanda molekuler. Pada prokaryota terdapat tiga jenis RNA ribosomal, yaitu 5S, 16S, dan 23S rRNA. Di antara ketiganya, 16S rRNA yang paling sering digunakan dan menjadi prosedur baku. 16s rRNA merupakan komponen subunit kecil pada ribosom yang hanya terdapat pada bakteri. Analisis gen penyandi 16S rRNA menjadi prosedur baku untuk menentukan hubungan filogenik dan menganalisis suatu ekosistem karena bersifat ubikuitas dengan fungsi yang identik pada seluruh organisme (Neli 2010).

Tujuan

Praktikum ini bertujuan untuk mengisolasi DNA genom prokariot dari daging dengan metode identifikasi 16S rRNA.

 

Pembahasan

Identifikasi mikroorganisme kontaminan yang terdapat pada daging kambing menggunakan metode 16S rRNA. Metode ini digunakan secara baku karena bersifat ubikuitas dengan fungsi yang identik pada seluruh organisme, memiliki beberapa daerah yang memiliki urutan basa yang relatif konservatif dan beberapa daerah urutan basanya variatif dapat digunakan untuk melacak keragaman dan menempatkan galur-galur dalam satu spesies. Analisis gen penyandi 16S rRNA praktis untuk definisi spesies, karena molekul ini bersifat ubikuitus, sehingga dapat dirancang suatu primer yang universal untuk seluruh kelompok. Penentuan spesies baru pun dapat dilakukan tanpa mengisolasi mikroorganisme yang bersangkutan. (Neli 2010).

Pada praktikum, isolasi DNA dari sampel daging kambing atau ayam digerus hingga halus kemudian dilakukan proses PCR. PCR terdiri dari tiga tahap, yaitu denaturasi, annealing, dan sintesis DNA. Denaturasi merupakan proses pemisahan dua untai pilinan DNA, di mana ikatan hidrogen yang menyatukan kedua pilinan tersebut lepas sehingga masing-masing akan menjadi utas tunggal dengan suhu 95OC selama 1 menit. Annealing merupakan proses penempelan primer (primer forward dan primer reverse) pada utas tunggal DNA, suhu 55OC selama 30 detik. Sintesis DNA merupakan proses perbanyakan DNA dengan cara pemanasan kembali pada suhu 72OC selama 2 menit. Ketiga tahap ini terus-menerus berulang sampai tiga puluh kali ulangan untuk mendapatkan sekitar satu miliar copy potongan DNA (Aljanabi & Martinez 1997). Setelah itu untuk mengidentifikasinya, DNA divisualisasikan melalui proses elektroforesis DNA sehingga terlihat pita-pita DNA pengkode 16S rRNA yang running.

Hasil elektroforesis pada Gambar 1 menunjukkan bahwa semua kelompok baik laboratorium Bio-5 maupun Bio-4 berhasil, dicirikan dengan adanya pita-pita DNA pengkode 16S rRNA yang running. Pita DNA pengkode 16S rRNA pada kelompok 23 terdapat di bagian bawah sebelah kanan dekat dengan marker. Pita ini terlihat tipis. Dengan adanya pita DNA, maka daging kambing (kelompok 23) terinfeksi mikroorganisme. Namun, mikroorganisme tersebut tidak diketahui nama genus atau spesiesnya. Beberapa faktor yang mempengaruhi keberhasilan identifikasi  16S rRNA antara lain proses isolasi, PCR, elektroforesis, alat dan bahan, serta berkaitan dengan teknis perlakuan.

Simpulan

Metode identifikasi  16S rRNA sering digunakan untuk mengidentifikasi keberadaan mikroorganisme, khususnya bakteri, yang terdapat pada organisme eukariot karena bersifat ubikuitas dengan fungsi yang identik pada seluruh organisme sehingga dapat dirancang suatu primer yang universal. Hasil elektroforesis meunjukkan adanya pita DNA pengkode 16S Rrna pada semua well sehingga dapat dikatakan bahwa daging kambing atau ayam terinfeksi mikroorganisme. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa praktikan telah berhasil melakukan proses identifikasi dengan menggunakan metode identifikasi  16S rRNA.

Advertisements

ISOLASI DNA GENOM EUKARIOT DARI DAGING

ISOLASI DNA GENOM EUKARIOT

Pendahuluan

Semakin meningkatnya metode dalam ilmu genetika molekuler memudahkan para ilmuan untuk mengidentifikasi suatu mikroba yang bersimbiosis atau hidup pada tubuh organisme lain. Identifikasi dapat dilakukan melalui metode isolasi DNA genom. Isolasi DNA genom merupakan suatu cara untuk mendapatkan DNA genom mikroba. Isolasi DNA diawali dengan pembuangan atau perusakan dinding sel, dapat dilakukan dengan cara mekanis seperti sonifikasi, tekanan tinggi, beku-leleh, atau cara enzimatis seperti pemberian lisozim. Selanjutnya melisiskan sel, sentrifugasi, hingga pemurnian DNA genom (Rifai 2011).

Mikroba yang diamati adalah bakteri. Bakteri merupakan organisme prokariot berukuran mikroskopis, memiliki bentuk (basil, kokus, spiral) dan penataan (berpasangan, bergerombol, rantai atau filament) yang beragam, beberapa menghasilkan spora, dan pembelahan sel yang khas (Pelczar & Chan 1986). Perbedaan antara bakteri dengan organisme eukariot, yaitu pada RNA pada ribosom berukuran 16s rRNA. 16s rRNA merupakan komponen subunit kecil pada ribosom yang hanya terdapat pada bakteri. Analisis gen penyandi 16s rRNA menjadi prosedur baku untuk menentukan hubungan filogenik dan menganalisis suatu ekosistem karena bersifat ubikuitas dengan fungsi yang identik pada seluruh organisme (Neli 2010).

Tujuan

Praktikum ini bertujuan untuk mengisolasi DNA genom eukariot.

Pembahasan

Identifikasi DNA genom eukariot dengan cara mengisolasi DNA genom bakteri terlebih dahulu karena DNA genom bakteri memiliki sekuen subunit kecil yang khas pada ribosomnya, yaitu 16s rRNA. 16s rRNA merupakan salah satu penyusun subunit 30S, yang penting untuk translasi, dan terdiri dari 1542 pasangan basa. 16s rRNA adalah suatu jenis RNA yang dilibatkan dalam produksi protein. Di antara berbagai teknik yang digunakan, RNA ribosomal paling banyak digunakan sebagai penanda molekuler. Pada prokaryota terdapat tiga jenis RNA ribosomal, yaitu 5S, 16S, dan 23S rRNA. Di antara ketiganya, 16S rRNA yang paling sering digunakan karena bersifat ubikuitas dengan fungsi yang identik pada seluruh organisme, memiliki beberapa daerah yang memiliki urutan basa yang relatif konservatif dan beberapa daerah urutan basanya variatif (Neli 2010).

Pada praktikum kali ini digunakan berbagai larutan untuk mendukung isolasi DNA genom eukariot. Beberapa larrutan tersebut antara lain buffer lisis, proteinase K, NaCl,  RNAse A, Isopropanol, dan ddH2O. Fungsi-fungsi larutan ini antara lain buffer lisis dan proteinase K yang terkandung didalamnya berfungsi untuk melisiskan atau menghancurkan sel dengan cara melarutkan fosfolipid dan komponen protein sehingga membrane sel mengalami kerusakan, NaCl yang berupa ion berfungsi untuk menarik DNA, RNAse A untuk mendenaturasi RNA, dan isopropanol untuk mengendapkan DNA dari yang lain yamg menempel (Brown 1991). Pada metode terdapat tahap precipitasi protein yang merupakan tahap di mana DNA dipisahkan dari protein-protein atau komponen-komponen protein lain.

Berdasarkan hasil percobaan, pita DNA genom eukariot yang terlihat hanya pada lamda (5 µl), kelompok 3, 7, 9, 11, 13, 15, 17, 19, 21 dan 23. Pita DNA genom eukariot yang dimaksud, yaitu pita yang berada di atas sejajar dengan lamda (5 µl), sedangkan pita tebal yang berada di bawah adalah RNA. Pita DNA genom eukariot pada kelompok 1 dan 5 tidak terlihat. Hal tersebut terjadi mungkin karena masalah teknis seperti perlakuan yang dilakukan tidak sesuai, serta masalah bahan atau larutan yang mungkin konsentrasi atau pemberian bahan atau larutan yang tidak benar.

Simpulan

            Identifikasi DNA genom bakteri dapat dilakukan dengan cara analisis gen penyandi 16s rRNA karena bersifat ubikuitas dengan fungsi yang identik pada seluruh organisme, memiliki beberapa daerah urutan basa yang relatif konservatif dan beberapa daerah urutan basanya variatif. Hasil percobaan menunjukkan bahwa pita DNA genom eukariot pada kelompok 23 terlihat sehingga dapat dikatakan bahwa kelompok 23 telah berhasil melakukan percobaan dengan benar. Pita DNA genom eukariot yang tidak terlihat mungkin terjadi karena kesalahan teknis dan bahan.

Polymerase Chain Reaction (PCR)

Polymerase Chain Reaction (PCR)

PENDAHULUAN

Semakin meningkatnya teknologi rakayasa genetika memunculkan metode baru untuk mempermudah proses perbanyakan DNA, salah satunya dengan metode Polymerase Chain Reaction (PCR). PCR merupakan suatu metode yang banyak digunakan untuk memperbanyak DNA dengan cepat yang akan dipakai pada kloning gen, deteksi polimorfisme, diagnosis penyakit, dan lain-lain secara in vitro dengan menggunakan dua primer untai tunggal pendek (Noer & Gustiananda 1997). Dengan metode ini sejumlah kecil fragmen DNA yang diinginkan akan diamplifiksikan secara eksponensial sampai jutaan kali dalam waktu beberapa jam (Sulistyaningsih 2007).

Beberapa komponen yang diperlukan dalam PCR antara lain fragmen DNA yang akan diperbanyak (template DNA), sepasang oligonukleotida sintetik, enzim DNA polymerase yang tahan panas atau disebut juga Taq polymerase, berbagai macam nukleotida bebas atau dNTPs (dATP nukleotida berbasa Adenine, dGTP nukleotida berbasa Guanine, dCTP nukleotida berbasa Cytosine, dan dTTP nukleotida berbasa thymine), buffer yang mengandung MgCl2 reverse transcriptase, dan alat thermocycler (Sulistyaningsih 2007). Panjang target DNA berkisar antara puluhan sampai ribuan nukleotida yang posisinya diapit sepasang primer. Primer yang berada sebelum target disebut primer forward dan primer yang berada setelah target disebut primer reverse (Muladno 2002).

Perbanyakan DNA melalui PCR terdiri dari tiga tahap, yaitu denaturasi, annealing, dan sintesis DNA. Denaturasi merupakan proses pemisahan dua untai pilinan DNA, di mana ikatan hidrogen yang menyatukan kedua pilinan tersebut lepas sehingga masing-masing akan menjadi utas tunggal dengan suhu yang biasa digunakan berkisar antara 92-96OC dalam waktu beberapa detik. Annealing merupakan proses penempelan primer (primer forward dan primer reverse) pada utas tunggal DNA, suhu yang biasa digunakan berkisar antara 40-55OC. Sintesis DNA merupakan proses perbanyakan DNA dengan cara pemanasan kembali pada suhu sekitar 72 OC. Ketiga tahap ini terus-menerus berulang sampai tiga puluh kali ulangan untuk mendapatkan sekitar satu miliar copy potongan DNA (Aljanabi & Martinez 1997).

TUJUAN

Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui cara perbanyakan DNA dengan Polymerase Chain Reaction (PCR).

PEMBAHASAN

Percobaan ini bertujuan mengetahui cara perbanyakan DNA dengan PCR (polymerase chain reaction). Perbanyak DNA melalui PCR hanya menggunakan sedikit fragmen DNA untuk menghasilkan berjuta-juta copy DNA. Prinsip kerja PCR adalah menggandakan potongan DNA tertentu dari seluruh untaian DNA, baik yang berasal dari DNA sel inti (nukleus) maupun organel sel seperti DNA mitokondria (mtDNA) atau Ribosom (rDNA).

Komponen-komponen yang diperlukan untuk PCR antara lain template DNA, primer, DNA polymerase, Deoxynucleotide Triphosphate (dntp), dan konsentrasi Mg2+. Template DNA merupakan molekul DNA utas ganda yang mengandung sequen target yang akan diamplifikasi. Pasangan primer terdiri dari 2 oligonukleotida yang mengandung 18-28 nukleotida dan mempunyai 40-60% GC content. DNA polymerase yang biasa digunakan Taq polymerase yang stabil pada suhu tinggi karena enzim ini diisolasi dari Thermus aquaticus yang hidup pada sumber air panas. Deoxynucleotide Triphosphate (dntp) terdiri dari dATP, dGTP, dCTP, dan dTTP sebagai bahan untuk mensintesis untai DNA komplementer dengan konsentrasi masing-masing dntp sebesar 20-200 iM menghasilkan keseimbangan optimal antara hasil, spesifitas, dan ketepatan PCR. Konsentrasi Mg2+ mempengaruhi annealing primer, suhu pemisahan untai template dan produk PCR, spesifitas produk, pembentukan primer-dimer, serta aktivitas dan ketepatan enzim (Sulistyaningsih 2007).

Terdapat tiga tahap yang harus dilalui dalam perbanyakan DNA melalui PCR, yaitu pra denaturasi, denaturasi, annealing, elongasi, dan post elongasi. Pada percobaan masing0masing tahapan dalam PCR diseting berdasarkan suhu dan waktu yang diperlukan. Pada tahap pra denaturasi dan denaturasi, suhu dan waktu yang digunakan masing-masing sebesar 95OC selama 5 menit. Pada tahap annealing suhu yang digunakan 55OC selama 1 menit. Pada elongasi dan pra elongasi suhu dan waktu yang digunakan masing-masing sebesar 72OC selama 1 menit. pada tahap denaturasi, annealing, dan elongasi dilakukan atau diulang hingga 30 siklus untuk menghasilkan berjuta-juta copy DNA.

Pada percobaan pita DNA yang digunakan berukuran 2 bp. Menurut literature, melalui PCR akan dihasilkan berjuta-juta pita yang berukuran spesifik 1300 bp dan ditentukan ketika elongasi dengan perincian 1 menit bertambah 1000 bp. Dari hasil percobaan (gambar 1) terlihat bahwa pita DNA yang terlihat hanya pada kelompok 1, 3, 5, 9, 11, dan 15 running. Sedangkan pada kelompok sisanya tidak running atau tidak terlihat. Ini dapat disebabkan karena densitas DNA yang terlalu ringan sehingga tidak terlihat pergerakan DNA, pemberian pewarna tidak optimal, atau karena masalah teknis lainnya.

Penggunaan PCR memiliki banyak keuntungan yaitu dapat mengcopy berjuta-juta DNA dari sedikit fragmen DNA dalam waktu yang relatif singkat, sensitivitas dan spesifitas tinggi, dapat mendeteksi dan membedakan varian mikroorganisme, dan sebagainya. Disamping kelebihan tersebut, terdapat beberapa keterbatasan penggunaan PCR seperti harus dilakukan oleh seorang operator yang memiliki keahlian khusus dan berpengalaman, teknik prosedur yang kompleks, peralatan dan reagen yang digunakan mahal, dan sebagainya (Sulistyaningsih 2007).

Simpulan

PCR (Polymerase Chain Reaction) merupakan metode yang digunakan untuk perbanyak DNA yang hanya memerlukan sedikit fragmen DNA untuk menghasilkan berjuta-juta copy DNA dalam waktu yang relative singkat. Hasil percobaan pada kelompok 23 tidak berhasil, ini dapat terlihat dari gambar 1 di mana pada sumur ke-14 tidak terbentuk pita. Ketidakberhasilan ini dapat terjadi karena kesalah teknis dan sistematis. Kelebihan dan keterbatasan PCR antara lain dapat memperbanyak fragmen DNA dalam waktu yang relative singkat, memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi, memerlukan tenanga ahli dan berpengalaman, prosedur yang digunakan kompleks, serta peralatan dan reagen yang digunakan mahal.

Ligasi dan Transformasi DNA

LIGASI DAN TRANSFORMASI

PENDAHULUAN

Teknologi DNA rekombinan atau teknik rekayasa genetika banyak digunakan untuk perbanyakan gen tertentu di dalam sel yang bukan sel alaminya  sehingga sering disebut sebagai Kloning gen. Dalam bidang genetika, kloning merupakan replikasi segmen DNA tanpa melalui proses seksual. Sedangkan teknologi DNA rekombinan merupakan pembentukan kombinasi materi ganetik baru dengan cara penyisipan molekul DNA ke dalam suatu vektor sehingga memungkinkannya untuk terintegrasi dan mengalami perbanyakan di dalam suatu sel organisme yang berperan sebagai sel inang (Thalib 2009).

Secara teoritis prosedur dan mekanisme kloning atau rekombinasi DNA melalui empat tahap, yaitu isolasi fragmen DNA, ligasi fragmen DNA ke dalam vektor, transformasi dan seleksi hasil kloning. Isolasi DNA merupakan cara yang dilakukan untuk memperoleh DNA dalam suatu organisme. Ligasi merupakan proses penyisipan atau penyambungan molekul fragmen DNA dengan molekul DNA vektor, biasanya ligasi terjadi antara ujung gugus fosfat dengan gugus hidroksil. Transformasi merupakan cara yang digunakan untuk memanipulasi DNA bakteri agar diperoleh sifat yang diinginkan, yaitu menjadikan bakteri mampu menyerap molekul DNA yang berada di lingkungan atau disebut juga sel kompeten (Febrin 2010).

Sel kompeten merupakan sel inang yang memiliki kompetensi untuk memasuki vektor kloning. Beberapa perlakuan yang dapat dilakukan untuk memasukkan sel kompeten antara lain menggunakan metode kejutan panas (heat shock) atau metode kejutan pulsa listrik (electroporation). Untuk mengetahui sel kompeten atau sel yang telah mengalami transformasi maka dilakukan seleksi transforman dengan memanfaatkan sifat yang dibawa sebagai marka seleksi. Bakteri ditumbuhkan pada medium yang mengandung ampisilin atau melalui ekspresi gen (Sambrook et al. 1989).

TUJUAN

Percobaan ini bertujuan untuk melakukan penyambungan dua fragmen DNA dan mengetahui cara introduksi DNA ke dalam E. coli.

PEMBAHASAN

Ligasi merupakan proses peyisipan atau penggabungan fragmen DNA dengan DNA vektor. Penyambungan fragmen DNA mengikuti kaedah Chargaff, yaitu basa T bepasangan dengan basa A, sedangkan basa G berpasangan dengan basa C. Terdapat tiga cara yang dapat dilakukuan untuk meligasikan fragmen-fragmen DNA secara in vitro, yaitu pertama menggunakan enzim DNA ligase dari bakteri, kedua menggunakan DNA ligase dari sel-sel E. coli yang telah diinfeksi dengan bakteriofage T4 atau disebut juga enzim T4 ligase, dan ketiga memberi enzim deoksinukleotidil transferase untuk menyintesis utas tunggal homopolimerik 3’ (Sajidan 2008).

Pada percobaan ligasi digunakan perbandingan insert dan vektor (3:1). Penambahan insert atau gen target yang lebih banyak dibandingkan dengan vektor bertujuan untuk memperbesar peluang gen target berikatan dengan vektor (Anam 2010). Suhu optimum untuk aktivitas DNA ligase pada 30OC. Namun, pada suhu ini ikatan hidrogen yang secara alami terbentuk di antara ujung-ujung lengket menjadi tidak stabil dan kerusakan akibat panas akan terjadi pada ikatan tersebut. Oleh karena itu, ligasi biasanya dilakukan pada suhu antara 4OC dan 15OC dengan waktu inkubasi yang diperpanjang atau semalam (Rifai 2011). Hasil dari percobaan ligasi akan digunakan untuk proses transformasi bakteri sehingga akan terlihat keberhasilan proses ligasi pada proses transformasi.

Pada percobaan transformasi, proses transformasi terjadi saat dilakukan heat shock dengan bantuan ion kalsium. Ion kalsium berfungsi sebagai ion yang membantu terbukanya protein integral sebagai kanal ion yang dimanfaatkan sebagai tempat keluar masuknya plasmid ke dalam sel inang (bakteri E. coli). Waktu yang dibutuhkan hanya beberapa detik, karena apabila terlalu lama ada kemungkinan plasmid yang telah masuk dapat keluar kembali. Hal terpenting dalam transformasi adalah perlakuan kalsium klorid (CaCl2) yang memungkinkan sel-sel E. coli untuk mengambil DNA (Muladno 2002). Kalsium klorid terdapat dalam komposisi larutan transformation buffer (TB).

Transformasi merupakan kelanjutan dari proses ligasi. Sebelum melakukan proses transformasi, dibuat suatu kontrol untuk mengetahui keberhasilannya. Kontrol yang dibuat antara lain kontrol positif, kontrol negatif, dan IPTG dan X-gal. Kontrol positif dibuat tanpa menambahkan antibiotik, sehingga dapat mengetahui kemampuan sel kompeten untuk hidup di media tanpa antibiotik atau agen penseleksi. Kontrol negatif dibuat dengan menambahkan antibiotik atau agen penseleksi sehingga dapat menseleksi sel bakteri yang tumbuh pada media tersebut hanya sel yang kompeten. Medium dengan IPTG dan X-gal untuk menguji bahwa IPTG dan X-gal yang digunakan masih bagus. Perbedaan pelakuan di ruang laboratorium dan LAFC (laminar air flow cabinet) berkaitan dengan tingkat aseptikfitas dan keberhasilan transformasi.

Keberhasilan proses transformasi dapat dilihat dari perubahan warna sel atau koloni E. coli yang tersisipi oleh molekul DNA lain atau disebut juga ekspresi gen. Ekspresi gen yang terjadi pada plasmid yang mengandung gen lacZ yang menyandi β-galactosidase akan mengubah molekul X-gal dari tidak berwarna menjadi berwarna biru. Gen lacZ diinduksi oleh IPTG (Isopropil thiogalactoside) sehingga bila gen lacZ tersisipi oleh molukul DNA lain dapat menyebabkan tidak terekspresinya molekul X-gal dan molekul ini menjadi tidak berwarna atau berwarna putih (Anam 2010). Hasil transformasi menunjukkan bahwa gen lacZ pada sel E. coli tersisipi oleh molekul DNA lain sehingga dapat dikatakan bahwa proses transformasi berhasil, begitu pula pada kontrol positif, negatif, serta IPTG dan X-gal di mana sel E. coli berwarna biru. Kesalahan yang mungin terjadi bila hasil tidak sesuai dengan teori, antara lain kesalahan pada proses ligasi, molekul DNA lain tidak menyisip pada gen lacZ dan kesalahan sistematik dalam eksperimen.

SIMPULAN

Percobaan ligasi dan transformasi saling terkait satu sama lain. Keberhasilan ligasi dapat menentukan keberhasilan transformasi, tapi tidak secara mutlak. Hasil ligasi kelompok 23 tidak berhasil atau tidak terlihat adanya pita plasmid yang terbentuk. Pada hasil transformasi kelompok 23 telah berhasil melakukan percobaan dengan benar, ini dapat dilihat dari terbentuknya sel kompeten yang ditandai dengan sel atau koloni bakteri yang tidak berwarna atau berwarna agak keputihan. Sel yang tidak berwarna ini dihasilkan karena gen lacZ pada sel bakteri tersisipi oleh molekul DNA lain sehingga molekul X-gal tidak diekspresikan oleh β-galactosidase yang dikandung gen lacZ.