Titrasi Asam Basa NaOH dan HCl

PENDAHULUAN

Titrasi adalah reaksi pada suatu larutan yang ditambahkan larutan dari buret sedikit demi sedikit sampai jumlah zat-zat yang direaksikan tepat menjadi ekivalen satu sama lain. Larutan yang ditambahkan dari buret disebut titran, sedangkan larutan yang ditambahkan dari titran atau larutan pada erlenmeyer disebut titrat. Syarat-syarat terjadinya reaksi titrasi antara lain berlangsung secara sempurna, tunggal, dan berdasarkan teoritis; cepat dan reversibel; adanya indikator; dan larutan baku yang direaksikan dengan analat mudah didapat dan mudah penggunaannya (Harjadi 1986).

Reaksi-reaksi yang digunakan untuk titrasi dikelompokkan ke dalam empat jenis, yaitu asam-basa, oksidasi-reduksi (redoks), pengendapan, dan pembentukan suatu kompleks stabil. Pada titrasi asam-basa biasanya titran yang digunakan merupakan larutan standar elektrolit kuat seperti NaOH dan HCl. Titrasi oksidasi-reduksi pada reaksi-reaksi kimia secara luas digunakan dalam analisis titrimetri, sedangkan pengendapan kation Ag+ dengan anion halogen seperti Cl, Br, I, atau SCNmerupakan prosedur titrimetrik yang digunakan secara luas. Pembentukan kompleks stabil terjadi pada reaksi antara Ag+ dan CN, reaksi ini merupakan dasar cara Liebig untuk menentukan sianida (Day & Underwood 1998).

Larutan baku primer adalah larutan larutan yang terbuat dari bahan baku primer yang konsentrasi larutannya dapat langsung ditentukan dari berat bahan sangat murni yang dilarutkan (Harjadi 1986). Pada reaksi tirasi asam-basa biasa digunakan larutan baku primer asam oksalat untuk NaOH dan boraks untuk HCl. Bahan baku primer yang digunakan untuk setiap larutan berbeda-beda berdasarkan jenis titrasinya.

TUJUAN PERCOBAAN

Percobaan ini bertujuan untuk pengenalan alat dan teknik pengoperasiannya dalam teknik analisis.

PROSEDUR PERCOBAAN

Asam oksalat ditimbang sebanyak 0,3150 gram untuk mendapatkan larutan dengan konsentrasi 0,1N sebanyak 100 ml, kemudian dimasukkan ke dalam labu takar ukuran 100 ml. Sebanyak 10 ml asam oksalat tersebut dipipet ke dalam Erlenmeyer 125 ml, lalu ditambahkan tiga tetes indikator PP. Selanjutnya lakukan titrasi secara triplo untuk setiap indikator dengan larutan NaOH. Pada saat larutan berubah warna dari warna asal atau tidak berwarna menjadi berwarna lain, maka titik akhir telah tercapai.

Boraks ditimbang sebanyak 0,9550 gram untuk mendapatkan larutan dengan konsentrasi 0,1 N sebanyak 100 ml. Kemudian dimasukkan ke dalam labu takar ukuran 100 ml. Sebanyak 10 ml boraks tersebut dipipet ke dalam Erlenmeyer, lalu ditambahkan tiga tetes indikator tertentu yang sesuai MM. Selanjutnya lakukan titrasi secara triplo untuk setiap indikator dengan larutan HCl. Pada saat larutan berubah warna dari warna asal atau tidak berwarna menjadi berwarna lain, maka titik akhir telah tercapai.

Pada penentuan konsentrasi NaOH dan HCl, sebanyak 10 ml larutan NaOH dan HCl masing-masing dipipet ke dalam Erlenmeyer 125 ml. Selanjutnya ditambahkan indikator tertentu (PP, MJ, dan BTB), lalu larutan tersebut dititrasi secara triplo untuk setiap indikator, dengan titran HCl atau NaOH sampai terjadi perubahan warna.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s