Kau Lebih Baik Tahu

Besok sudah mulai puasa, banyak yang ingin saya ceritakan.
Hari ini dan hari-hari sebelumnya telah banyak bercerita tentang karakter teman-teman.
Ada dua topik yang ingin saya fokuskan.
Pertama, kita tidak pernah tahu kalau ternyata apa yang kita ceritakan atau katakan kepada orang lain ternyata masih diingat oleh dia, sedangkan kita sendiri telah melupakannya. Jadi, usahakan sebaik mungkin untuk mengatakan hal-hal yang bermanfaat untuk orang lain juga untuk diri kita pribadi.
Kedua, beberapa orang sangat tidak ingin untuk mengubah sikapnya karena dia berpikir itu sudah karakter dari keluarganya jadi tidak bisa diubah. Baiklah. Coba kita ambil contoh, misalnya kamu adalah orang yang berasal dari negara tropis yang biasa mengenakan pakaian agak tipis karena panas, kemudian kamu pindah ke negara yang beriklim sedang dimana ada musim dingin dan saat musim dingin kamu tetap mengenakan pakaian yang agak tipis, karena itu adalah style kamu. Karenanya kamu harus menerima konsekuensi jika suatu hari kamu sakit.
Sama halnya orang yang keukeuh dengan pendiriannya tentang karakternya yang tidak bisa diubah, maka dia harus mau menanggung konsekuensi atas hal yang mungkin akan terjadi padanya.

Kesalahan yang tak tersadari

Cinta orang tua kepada anaknya sudah pasti melebihi cinta seorang kekasih. Dan kau tak akan pernah bisa membandingkan keduanya.
Mungkin suatu hari kau resah dan kecewa dengan kekasihmu kemudian tiba-tiba kau berucap ‘tidak ada ketulusan cinta seperti cinta yang diberikan oleh ibu’. Tentu saja kalimat tersebut benar adanya dan bukan jadi sebuah perbandingan terhadap ketulusan cinta yang diberikan oleh kekasihmu.
Dua insan yang saling mengasihi dan menyayangi seperti bumi dan langi, jika langit tidak menurunkan hujan maka tidaklah ada bunga-bunga indah yang tumbuh untuk kemudian bunga-bunga tersebut akan melepaskan energi dan masuk ke dalam daur hidrologi yang bisa dikatakan berperan juga untuk turunnya hujan.
Seperti itulah cinta kedua insan manusia, saling membutuhkann dan melengkapi.

Sadarku

Dia yang selalu ada di sampingku dan menyayangiku.
Dear my besties..
Nasihat-nasihatmu sangat menyejukkn hatiku. Di saat aku hanya dapat bercerita pada Tuhan, kemudian kau tiba-tiba menanyakan kabarku, mungkin kau adalah cara bagaimana Tuhan menunjukkan jalan dan membuatku tidak terus dilingkupi kesedihan. Kau tau jika aku sedang sedih karna sedang kecewa dgn seseorang yg dekat denganku. Sampai suatu hari aku sangat bersedih dan hanya berdiam diri, kemudian kau bertanya padaku “kamu percaya dengan adanya jodoh?” Saat itu aku merasa ragu untuk menjawab, ketika hatiku sangat sakit aku merasa jodohku entah dimana. Akhirnya aku menjawab “ya, aku percaya. Jika kita menginginkannya”. Dia hanya diam dan percakapan melalui sms pun berakhir.
Beberapa hari kemudian aku menyadari arti dari pertanyaannya. Aku menyadarkan diriku dan berkata ‘jika aku percaya dengan jodohku, maka janganlah ada kecemasan dan bersedih hati karenanya’. Karena rezeki, jodoh, hidup dan matiku sudah ditetapkan oleh Allah Swt.

Saya dan SocMed (Social Media)

Beberapa tahun ini udah banyak SocMed yg kita kenal, mulai dari Friendster sampai Intigram. Saya sendiri punya SocMed friendster, facebook, twitter, dan whatsapp. Dari keempat itu, hanya twitter yg selalu update . Tapi akhir-akhir ini saya merasa jadi “addicted” dengan twitter. Kalau ada apa-apa dan dimana harus ngetuit atau paling tidak baca tuit temen2 (semacam jadi stalker).
Beberapa waktu jadi terbuang sia-sia, seharusnya saya mengerjakan tugas kadang karna terlalu asik dengan SocMed jadi tertunda. Hal ini tentu saja karna diri saya sendiri yg belum bisa memanage waktu . Nah, masalah ini yang kadang mendorong saya untuk me-nonaktifkan beberapa akun, eh ada TAPI-nya..  tapi hanya sementara (tidak permanen lho di-nonaktifkannya). Yap, semoga saya bisa lebih fokus lagi utk menyelesaikan tugas-tugas. Ganbatte kudasay!!!

December 12nd

Entah siapa yang salah..

Aku hanya membaca perbincangan di salah satu jejaring yang sempat kami gunakan saat liburan semester 6 dan ternyata dia juga melakukannya dengan wanita itu. Agak miris, tapi aku hanya bisa diam membacanya. Rasanya ada yang “menyayat” hatiku (agak lebay sih), saat tau orang yang kamu percaya ternyata menusukmu dari belakang terlebih dengan wanita yang dibilang wanita baik2 karena dia ikut organisasi kerohanian. Kalau wanita itu tau inti dari ajaran beragama adalah tidak saling menyakiti, lalu apa yang dia perbuat benar?? Memang semua orang berhak untuk saling mencintai dan dicintai, tapi apa kamu juga ingin kalau suatu hari pasanganmu “digoda” oleh wanita/pria lain?

Aku teringat catatan kaka kelas temanku… Konteksnya dalam suatu pernikahan tapi inti masalahnya hampir sama. Perbedaannya, isteri dia bisa menyimpan rasa sakit hatinya dan mencoba untuk mandiri agar dia bisa survive dan berusaha membalas “kejahatan” suaminya dengan kebaikan. Hingga suatu hari hati suaminya luluh dan sadar kalau dia mencintai isterinya dan ketika dia akan memberi hadiah untuk isteri yang dicintainya, semua telah terlambat. Isterinya meninggal dunia karena sakit yang dideritannya karena menanggung beban hidupnya. Dan saat itu suaminya sangat terpukul.

Kita tidak pernah tau berapa lama kita bisa terus bersama dengan orang yang kita sayangi, kita hanya berusaha untuk membuatnya bahagia.

seseorang akan merasa kehilangan orang yang disayanginya ketika orang tersebut telah pergi..

Keputusanku

Setelah aku pikirkan, aku memutuskan untuk me-nonaktif-kan akun FB dan Twitter. Walaupun belum permanen. Aku merasa jejaring tersebut terkadang malah membuatku terlihat bodoh karena posting2 yang ku buat.  -___-“.

Terkadang jejaring itu membuatku sedih karena melihat dia atau perempuan yang pernah dia cintai…

Meskipun aku telah memutuskan untuk me-nonaktif-kan akunku, tapi terkadang aku sempat mencuri kesempatan untuk melihat apa yang sedang dia tuliskan di akunnya. ^.^ . Ini adalah hal bodoh (lagi) yang aku lakukan. Harusnya aku sadar kalau dia tidak mengharapkanku lagi, kenapa aku belum bisa menerimanya? Apa karena janji masa depan yang indah? Lupakanlah… itu hanyalah perkataan untuk membuatku percaya. Dan sekarang aku telah tau bagaimana sikapnya sekarang terhadapku… aku hanyalah orang yang tercampakkan setelah semuanya telah terjadi. Miris, Ironis, tapi itulah yang terjadi.

Sekarang, aku berusaha untuk tidak mengingatnya karena tidak mungkin aku bisa melupakannya. Melupakan semua kenangan itu, janji-janji yang telah terucap, tawa dan tangi itu. Semuanya tidak bisa dengan mudah tuk dilupakan, tak semudah seperti yang dia katakana untuk melupakanku.

Semoga kesendirian ini membuatku lebih dewasa dan tau apa rencana Tuhan untukku. Untukku yang telah berdosa karena telah menduakan cinta-Nya.

Lalu, sampai kapan aku berhenti melakukan hal bodoh itu? We’ll see.